Faktor
Resiko Kanker Testis - Penyebab kanker
testis memang belum jelas dan pasti, namun beberapa faktor di bawah ini bisa
meningkatkan resiko seseorang untuk mengalaminya:
- Faktor usia, kanker testis umumnya menimpa semua pria, namun kerap terjadi pada pria yang berusia 30-34 tahun.
- Ras kaukasoid, pria berkulit putih sangat rentan terkena kanker testis dibanding pria berkulit hitam.
- Keturunan, jika ada anggota keluarga (ayah atau saudara kandung laki-laki) yang pernah menderita kanker testis, resiko penyakit tersebut diturunkan pada pembaca semakin besar.
- Riwayat kesehatan kanker testis, yang pernah diderita sebelumnya beresiko muncul kembali di bagian testis yang lain. Bahkan, kemungkinan resikonya bisa dua belas kali lipat. Maka dari itu, setelah menjalani pengobatan, pembaca harus melakukan pemeriksaan lanjutan.
- Tinggi badan, penelitian yang dilakukan pada tahun 2008 membuktikan, pria yang berbadan tinggi kemungkinan sering mengkonsumsi makanan tinggi kalori di masa-masa pertumbuhannya. Sehingga, efek samping makanan tersebutlah yang mungkin meningkatkan resiko kanker testis.
- Merokok, secara aktif dan dalam waktu yang cukup lama meningkatkan resiko kanker testis hingga dua kali lipat.
- Pertumbuhan testis tidak normal, syndrom klinefelter (kelainan genetik pria yang disebabkan oleh kromosom X berlebih) menyebabkan perkembangan testis abnormal, sehingga dapat meningkatkan resiko kanker testis.
- Kriptorkismus atau undescended testicle, yaitu keadaan dimana testis/biji zakar tidak turun. Apabila salah satu atau kedua testis tidak turun ke kantung kemaluan, resiko kanker testis yang dialami akan semakin besar. Meskipun telah dilakukan operasi, tidak akan menurunkan resikonya.
- Kelainan dalam pembentukan organ-organ tubuh, seperti ginjal, penis dan buah zakar.
- Pola makan, terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia memperbesar resiko kanker testis.
- Menderita HIV dan AIDS
Selain kesebelas
faktor di atas, ada faktor lain yang membuat resiko kanker testis semakin
besar, yaitu faktor lingkungan dan karakter seseorang. Kebisingan dan paparan
sinar radiasi, baik dari komputer, handphone, kompor listrik maupun microwave termasuk dalam faktor
lingkungan penyebab kanker testis. Sementara karakter seorang pria yang
menyebabkan resiko kanker testis semakin besar adalah introvert (tertutup), kurang ceria, tertekan dan depresi jangka
panjang.
Diagnosis Kanker Testis
Keberadaan sel-sel
kanker testis ditandai dengan munculnya benjolan pada bagian tertentu yang
diserang. Tapi, benjolan tersebut tidak melulu
disebabkan oleh kanker, jadi untuk memastikannya pembaca meminta dokter
untuk mendiagnosisnya. Langkah-langkah diagnosis yang dilakukan dokter untuk
memastikan keberadaan kanker pada testis adalah:
- Pemeriksaan fisik, dilakukan dokter untuk melihat kondisi testis secara langsung dan mengaitkannya dengan gejala-gejala serta riwayat kesehatan yang dialami pembaca.
- Ultrasound skrotum, dengan gelombang suara untuk mendapatkan gambar testis secara detail. Ultrasound skrotum adalah langkah utama untuk menentukan sifat benjolan pada testis, apakah jinak atau ganas.
- Tes darah, untuk memastikan ada-tidaknya hormon ‘penanda tumor’, seperti LDH (Lactate dehydrogenate), AFP (Alpha fetoprotein) dan HCG (Human chorionic gonadotrophin) yang diproduksi kanker pada darah. Walaupun hasil tesnya negatif, bukan jaminan pembaca tidak terserang kanker testis. Pasalnya hormon-hormon tersebut tidak dihasilkan semua kanker testis.
- Biopsi, mengambil contoh sel tumor untuk diuji di laboratorium. Biopsi yang dilakukan pada beberapa kasus dan terbukti aman adalah mengangkat testis yang terserang secara keseluruhan. Orkidektomi (pengangkatan testis) hanya dilakukan apabila benjolan pada testis disebabkan oleh kanker.
- Tes lainnya, yaitu X-Ray dada, CT-scan atau MRI untuk melihat sejauh mana penyebaran kanker.
Jika hasil
pengujian-pengujian di atas positif, dokter akan segera menentukan tahapan atau
stadium kanker yang dialami penderita. Sistem TNM dan stadium dipakai untuk
mengukur tingkat keparahan kanker testis yang diderita. Sistem TNM (Tumor size, Node dan Metastasis) menentukan tahapan kanter testis dari ukuran tumor,
penyebarannya ke kelenjar getah bening dan bagian tubuh lainnya. Sementara sistem
stadium terbagi atas:
- Stadium 1, kanker belum keluar dari testis
- Stadium 2, sel-sel kanker ber-metastasis ke kelenjar getah bening panggul
- Stadium 3, kanker menyebar ke kelenjar getah bening di dada atas.
- Stadium 4, penyebaran kanker testis telah sampai ke organ-organ tubuh lainnya, seperti paru-paru.
Kanker testis
sangat mudah terdeteksi di tahap-tahap awal, bahkan penderita dapat melakukan
pemeriksaan terhadap diri sendiri untuk mengenalinya. Apabila sudah ditemukan,
dokter akan menyembuhkannya melalui kemoterapi, terapi radiasi atau pembedahan
(tergantung jenis dan stadium kanker). Lakukan pemeriksaan lanjutan setelah
pengobatan untuk memastikan sel-sel kanker tidak kembali.

0 komentar:
Posting Komentar