Sejarah Ditemukannya Kanker Payudara Pertama Kali – Kanker payudara adalah pembunuh wanita nomor satu di dunia. Penyakit
tersebut terbilang sangat ganas dan termasuk jenis kanker yang pengobatannya
cukup sulit, bahkan penderitanya sering kali tak tertolong. Namun, kanker
payudara tidak hanya menyerang wanita, pria juga beresiko terserang penyakit
ini (dengan perbandingan 1:1.000). Sebenarnya bagaimana sejarah ditemukannya
kanker payudara, sehingga sampai sekarang semakin banyak penderita yang menjadi
korban?
Sejarah Kanker Payudara
Kanker payudara
sudah dikenal manusia sejak jaman dulu, bahkan telah disebutkan di hampir semua
periode dalam catatan sejarah. Menurut penelitian, kanker payudara pertama kali
ditemukan di jaman Mesir kuno (3.500 tahun yang lalu). Edwin Smith dan George
Ebres Papyri adalah dua orang ahli yang membuktikan kebenaran fakta tersebut.
Pada masa itu, kemunculan kanker payudara ditandai dengan adanya benjolan yang
berkembang menjadi tumor di payudara wanita dan tidak dapat disembuhkan. Awalnya,
kanker payudara dianggap sebagai masalah yang tabu dan memalukan, sehingga
jarang atau tidak pernah dilakukan deteksi dan diagnosis.
Selain itu, Bapak Ilmu Kedokteran dari Yunani, Hippocrates berhasil menggambarkan kanker payudara sebagai penyakit humoral. Menurut penjelasannya, ada empat cairan di tubuh manusia, yakni dahak, darah, empedu kuning dan empedu hitam. Salah satu cairan tersebut, yaitu empedu hitam yang terlalu banyak terdapat pada tubuh manusia menjadi penyebab kanker ini. Galen, seorang ahli yang berasal dari jaman sesudah masehi (tahun 200 M) setuju dengan penjelasan Hippocrates tersebut. Galen menyarankan opium, licorice, minyak jarak, salep, sulfur dan sebagainya untuk mengobati kanker payudara.
Hingga abad ke-17, teori Galen tentang kanker payudara masih diyakini. Namun di tahun 1680, Francois de la Boe Sylvius (seorang dokter asal Perancis) menentang teori humoral tersebut. Stahl pun membuat hipotesis bahwa kelebihan empedu hitam bukan merupakan penyebab kanker payudara. Ia mengatakan bahwa penyakit itu disebabkan oleh proses kimia (cairan limfatik diubah dari asam ke acrid). Setengah abad kemudian (tepatnya tahun 1730-an), seorang dokter asal Paris, Gendron Claude-Deshais juga menentang teori Galen. Ia mengatakan bahwa kanker payudara berkembang saat saraf dan jaringan kelenjar bercampur dengan pembuluh getah bening.
Bernardino Ramazzini pada tahun 1713 juga mengembangkan hipotesis bahwa frekuensi kanker payudara yang menyerang biarawati sangat tinggi. Hal itu dikarenakan minimnya aktifitas sex yang dilakukan mereka. Ramazzini berpendapat bahwa organ-organ reproduksi, termasuk payudara, mungkin akan membusuk dan mengembangkan kanker dengan cepat tanpa aktifitas seksual secara rutin. Tapi, peneliti asal Prusia, Friedrich Hoffman menentang hipotesis Ramazzini karena menurutnya wanita yang melakukan aktifitas seksual secara normal dan teratur masih bisa mengembangkan kanker payudara. Itu bisa mengarah ke penyumbatan limfatik.
Terdapat teori lain yang berkembang, seperti akibat kekentalan susu (Giovanni Morgagni), radang penuh nanah di payudara (Johanes de Gorter), depresi gangguan mental (Claude-Nicolas Le Cat dari Rouen), akibat memiliki anak (Heister Lorenz) dan yang lainnya menyatakan akibat gaya hidup yang tidak sehat.
Awal Ditemukannya Pengobatan Kanker Payudara
Di tahun 1757,
seorang dokter Prancis terkemuka, Henri Le Dran menyarankan operasi
pengangkatan tumor untuk mengobati kanker payudara. Operasi tersebut bisa
dilakukan asal infeksi kelenjar getah bening pada ketiak dihilangkan. Sementara
Claude-Nicolas Le Cat menyarankan terapi bedah sebagai satu-satunya metode
pengobatan kanker payudara. Hal itu berlangsung hingga abad ke-20 dimana
menyebabkan pembuatan radical mastectomy
atau pengangkatan payudara.
Di pertengahan abad ke-19, operasi merupakan jalan satu-satunya untuk mengobati kanker payudara. Pengembangan antiseptik, transfusi darah dan anestesi pada waktu itu dimungkinkan untuk memberi harapan hidup lebih tinggi bagi penderita yang dioperasi.
William Halstead, New York selama 100 tahun membuat operasi payudara radikal standar emas dengan mengembangkan radical mastectomy yang mengangkat payudara, aksila node (node pada ketiak) serta otot-otot di kedua dada dalam prosedur blok en tunggal. Maksudnya, satu bagian untuk mencegah penyebaran kanker sementara menghapusnya secara individual.
Radical mastectomy menjadi pengobatan andalan di empat dekade awal abad ke-20. Walaupun pengobatan tersebut membantu para wanita untuk bertahan hidup lebih lama, apalagi jika dilakukan lebih dini, banyak yang tidak memilihnya karena tidak ingin dianggap cacat dan sebagainya. Selain itu, masalah lain yang dialami wanita setelah melakukan radical mastectomy adalah cacat pada dinding dada, pembengkakan di lengan karena pengangkatan nodus limfa serta rasa sakit yang tak tertahankan.
Dari tahun ke tahun, penderita kanker payudara semakin bertambah dan saat ini pun masih menjadi topik hangat yang dibicarakan banyak orang. Setiap wanita beresiko terkena kanker payudara, termasuk pembaca. Maka dari itu, belajar dari sejarah kanker payudara yang sangat panjang pembaca harus melakukan langkah pencegahan agar tidak menderita penyakit tersebut. Langkah tersebut adalah SADARI atau periksa payudara sendiri. Apabila terlihat gejala-gejala yang aneh, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

0 komentar:
Posting Komentar